Dalam Bahasa Sansekerta, Guru berasal dari kata Gu dan Ru. Gu yang berarti menuntun menuju dan Ru berarti cahaya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sudah sangat familiar dengan kata tersebut, karena sedari kecil kita sudah bersekolah dan mengaji kepada seorang Guru.
Guru, hakikatnya adalah seorang yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Dalam perspektif Islam, guru juga seorang suri teladan bagi murid-muridnya. Jadi, tidak heran ketika seorang guru menjadi motivasi bagi muridnya dalam mengejar cita-cita, berperilaku bahkan menirukan gaya hidupnya.
Seorang guru berperan penting dalam membantu anak didiknya dalam mengembangkan potensi, ketrampilan, pengetahuan dan nilai moral. Maka dari itu sudah sepantasnya jika seorang guru harus selalu mengupgrade kemampuan dirinya agar tidak tertinggal di zaman yang sudah serba modern ini.
Menjadi Guru?
Mengapa tidak?
Menjadi guru bahkan merupakan salah satu cita-cita saya sedari masih di sekolah dasar, yang mana saya begitu terinspirasi dari guru saya saat itu. Beliau begitu pintar, cerdas, tegas, penuh semangat bahkan sedikit galak juga, namun beliau mempunyai hati yang lembut dan penyayang.
Menjadi guru adalah cita-cita yang mulia, mengemban amanah yang besar.
Cita-cita apapun tanpa seorang guru itu tidak mungkin, kita berada di dunia pendidikan bahkan harus ada gurunya. Jika tidak, bagaimana dan dengan siapa kita akan belajar? Mengandalkan teman? Buku? Internet? Mungkin untuk sekedar pemberi informasi cukup, tapi tidak dengan penanaman nilai moral dan penyampaian pembelajaran yang tertekstruktur.